Menu
Portal Berita Pendidikan Indonesia

Teknologi 5G Diyakini Akan Memberikan Dampak Positif Bagi Sektor Pendidikan

  • Bagikan
Teknologi 5G Diyakini Akan Memberikan Dampak Positif Bagi Sektor Pendidikan
Teknologi 5G Diyakini Akan Memberikan Dampak Positif Bagi Sektor Pendidikan

News.schmu.id, Teknologi : Teknologi 5G Diyakini Akan Memberikan Dampak Positif Bagi Sektor Pendidikan. Kegiatan belajar mengajar diyakini akan berkembang dengan hadirnya 5G karena teknologi generasi kelima akan membuat pengalaman belajar menjadi lebih menarik dan hidup.

Teknologi 5G Salah satu teknologi masa depan akan membuat pengalaman siswa dalam belajar lebih baik. Siswa akan merasakan sensasi berada di kelas, meskipun sebenarnya mereka berada di rumah. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan kegiatan belajar mengajar akan berkembang dengan hadirnya teknologi 5G. Teknologi akan membuat pengalaman belajar lebih menarik dan hidup.

Siswa tidak lagi hanya menatap layar untuk mendapatkan informasi, tetapi juga seolah-olah hadir di kelas agar materi terserap secara optimal. Hal ini dapat tercapai karena 5G memiliki karakteristik mampu menghadirkan kecepatan internet 20 kali lipat dari 4G.

“5G yang akan datang membuat anak kita yang berada di rumah memiliki rasa seakan dia berada di kelas,” kata Lutfi dalam diskusi virtual Bisnis Indonesia Mid Year Economic Outlook 2021: ‘Prospek Ekonomi Indonesia Pasca-Stimulus & Vaksinasi’, Rabu (7/7/2021).

Teknologi 5G tidak hanya berkutat pada dunia pendidikan, tetapi juga manufaktur.

Teknologi 5g diyakini beri dampak positif bagi sektor pendidikan
Ilustrasi Teknologi 5G, Foto: berca.co.id

Lutfi menjelaskan bahwa 5G, Internet powered objects (IoT), Blockchain, kecerdasan buatan, dan komputasi awan yang merupakan keunggulan teknologi. Khusus untuk 5G, solusi yang diberikan tidak hanya berkutat pada dunia pendidikan, tetapi juga manufaktur.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) fokus pada penambahan frekuensi untuk layanan mobile internet. Dirjen SDPPI Kemenkominfo Ismail mengatakan Kemenkominfo berusaha menghadirkan spektrum frekuensi di semua lapisan, termasuk di pita milimeterWave.

Pita 26-28GHz saat ini tidak digunakan. Kemenkominfo melakukan kajian untuk menentukan waktu yang tepat untuk merilis rekaman tersebut. Rilis dapat dilakukan lebih cepat dari 2022 atau lebih lambat, tergantung pada kematangan ekosistem dan kebutuhan operator untuk spektrum frekuensi tersebut.

Proses lelang juga akan melihat perkembangan pemanfaatan pita 28GHz secara global. “Jangan sampai ketika dirilis nanti kosong atau tidak diimplementasikan karena belum siap secara teknologi atau aspek permodalan,” kata Ismail kepada Bisnis, Senin

Ismail menjelaskan, spektrum frekuensi merupakan sumber daya yang terbatas. Jika jumlah operator telekomunikasi yang berminat pada pita frekuensi itu banyak, maka seleksi akan dilakukan dalam berbagai bentuk seperti lelang, beauty contest, dan sebagainya.

Baca juga: Pengaruh Transformasi Digital Pada Dunia Pendidikan

Pemerintah bisa menentukan skema apa saja asalkan dilakukan secara transparan. Adapun jika tidak ada yang berminat, kata Ismail, maka akan dilakukan negosiasi dengan perusahaan yang berminat. Spektrum frekuensi tidak disediakan secara gratis. “Kalau tidak ada yang berminat tidak seleksi, bisa terjadi negosiasi. Tidak diberikan begitu saja,” kata Ismail.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan