Sejarah Idul Adha, Tentang Pengorbanan Seorang Ayah dan Anaknya

News.schmu.id, Khasanah Islami: Sejarah Idul Adha, Tentang Pengorbanan Seorang Ayah dan anaknya. Setiap kita membicarakan Idul Adha, ada empat sosok yang selalu disebutkan dalam sejarah lahirnya hari besar ini. Mereka adalah Nabi Ibrahim, Siti Sarah, Siti Hajar, dan Nabi Ismail. Bagaimana sejarah idul adha lebih?

Dikisahkan dalam buku berjudul Cemerlang Hidup dengan Cahaya Al-Quran karya Akmal Rizki Gunawan Hasibuan, Nabi Ibrahim dan Siti Sarah, istrinya, sudah lama mendambakan kehadiran buah hati. Namun, itu tidak pernah datang kepada mereka.

Hingga tiba saatnya Sarah sudah tua, tepatnya di usia yang tidak memungkinkan untuk mengandung dan memiliki anak. Dia menyarankan suaminya untuk menikahi Siti Hajar, seorang wanita yang jujur, setia, dan baik hati.

Sejarah Idul Adha
Sejarah Idul Adha, Tentang Pengorbanan Seorang Ayah dan Anaknya

Itu dengan satu-satunya tujuan Hajar melahirkan keturunan yang akan melanjutkan tugas suami sebagai Nabi. Hingga akhirnya, pernikahan antara Siti Hajar dan Nabi Ibrahim melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan diberi nama Ismail.

Namun, kisah mereka tidak berhenti di situ. Ketika Nabi Ismael masih bayi, ia dan ibunya Hajar ditinggalkan Nabi Ibrahim untuk bekerja. Nabi Ibrahim melakukan perjalanan untuk memenuhi panggilan Allah tanpa meninggalkan apa pun tanpa anak dan istrinya. Di sini dia juga pergi tanpa membawa perbekalan apapun.

Perpisahan antara ketiganya berlangsung sangat lama, hingga ketika Nabi Ibrahim kembali ke kampung halamannya, anak dan istrinya sudah tidak ada lagi. Kemudian, seseorang berbagi informasi dengan Nabi Ibrahim bahwa anak dan istrinya berada di suatu tempat untuk menggembalakan kambing.

Tempat itu sekarang dikenal sebagai Padang Arafah. Sejarah Idul Adha Akhirnya terjadilah pertemuan yang mengharukan antara Nabi Ibrahim dengan anak dan istrinya. Dalam perjalanan kembali ke Mekah, keluarga kecil itu memutuskan untuk bermalam di Masya’ir Haram karena kelelahan.

Baca Juga:   Video: Panas Usai Kunjungan Pelosi, Ini Sejarah Konflik Cina vs Taiwan

Malam itu, Nabi Ibrahim diberi mimpi oleh Allah SWT. Sebuah mimpi yang merenggut dan merampas kebahagiaan Nabi Ibrahim dan keluarganya yang baru saja pulang bersama.

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim Singkat dan Lengkap

Nabi Ismael yang saat itu mulai beranjak dewasa tidak memiliki cukup waktu untuk bertemu dengan ayahnya. Sang istri yang belum melepas rindu pada suaminya dan juga Nabi Ibrahim yang tak kunjung melepas lelah bepergian, tiba-tiba mendapat mimpi dari Allah SWT yang dirasa sebagai ujian berat baginya.

Mimpi Nabi Ibrahim

Dalam Al Quran Surat As Saffat ayat 102, Allah SWT berfirman bahwa mimpi itu berisi perintah-Nya untuk menyembelih Nabi Ismail untuk disembelih. Dengan hikmat yang agung dan suara yang lembut, Nabi Ibrahim membisikkan mimpi itu ke telinga Hajar.

Sebagai seorang ibu, dia sangat terkejut. Namun, kejutan itu hanya berlangsung sebentar. Hajar percaya bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Hingga akhirnya Nabi Ibrahim mendatangi putra kesayangannya dan berkata:

“Anakku, memang aku melihat dalam mimpi bahwa aku membantaimu, jadi pikirkan apa yang kamu pikirkan!”

Ismail yang masih dalam masa pertumbuhan, berpikir dengan tenang hingga mengangkat wajahnya dan menjawab:

“Wahai ayahku! Lakukan apa yang (Allah) perintahkan kepadamu; Insya Allah, kamu akan menemukan aku di antara orang-orang yang sabar.”

Mengutip buku Cerita Al Quran untuk Anak karya Tim Erlangga, sebelum pembantaian dimulai, Ismail meminta beberapa permintaan kepada ayahnya. Dia meminta ayahnya untuk mengikatnya erat-erat agar dia tidak banyak bergerak dan tidak mengganggu Nabi Ibrahim.

Kemudian, Nabi Ismael juga meminta Nabi Ibrahim untuk menanggalkan pakaiannya agar tidak terkena darah. Kemudian yang ketiga, Nabi Ismael juga meminta agar sang ayah diasah keras dan mempercepat proses penyembelihan agar meringankan penderitaan yang dirasakannya.

Baca Juga:   Video: Panas Usai Kunjungan Pelosi, Ini Sejarah Konflik Cina vs Taiwan

Sampai permintaan terakhir, Nabi Ismail meminta ayahnya untuk memberikan pakaiannya kepada ibunya untuk menghiburnya dari kesedihan. Sang ayah, Nabi Ibrahim, mengabulkan semua permintaan putranya lalu memeluk dan mencium pipi putranya.

Sambil memegang parang di tangannya, Nabi Ibrahim akhirnya memejamkan mata yang masih dibanjiri air mata. Ketika parang mendekati leher Nabi Ismail, tiba-tiba dengan izin Allah parang menjadi tumpul dan tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Peristiwa tersebut merupakan mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah mengorbankan Ismail merupakan ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Sebagai ganti Ismail diselamatkan oleh Allah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menggantikannya dengan seekor kambing.

Kambing itu diikat ke sebuah pohon di dekat Gunung Tsubair. Akhirnya Nabi Ibrahim membeli kambing di Mina.

Peristiwa ini dijadikan sebagai pedoman dan sejarah sunnah kurban yang dilakukan oleh umat Islam pada setiap Idul Adha. Hanya itu saja sejarah idul adha yang diperingati setiap tahun. Selamat Hari Raya Idul Adha.

Terkini