Menu
Portal Berita Pendidikan Indonesia

Rektor UAD: Perlu Penguatan Etik dan Literasi Etika Bermedsos

  • Bagikan
Rektor UAD: Perlu Penguatan Etik dan Literasi Etika Bermedsos

Situasi ini menyebabkan netizen sering mengucapkan kata-kata yang tidak pantas

News Schmu, JAKARTA — Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Dr Muchlas Arkanuddin mengatakan etika dalam menggunakan media sosial (medsos) masih semakin sulit. Padahal, menurutnya, tantangannya ada di level tinggi.

“Masih di level tinggi. Jadi harus ada penguatan etika media sosial dan literasi etika untuk semua lapisan generasi oleh semua pihak, baik itu masyarakat, orang tua, guru, LSM, LSM, pemerintah atau pihak lain, ” ujarnya kepada Republika.co.id, Rabu (21/9/2022).

Banyak yang mengatakan mentalitas pengguna media sosial saat ini masih belum siap. Literasi digital dan etika dalam menggunakan media sosial masih kurang. Situasi ini akan menyebabkan netizen sering melontarkan kata-kata yang tidak pantas.

Ia juga menilai, referensi dalam penggunaan media sosial sangat diperlukan. Salah satu referensinya adalah Akhlak Sosmediyah yang diterbitkan oleh PP Muhammadiyah. Selain itu, panduan penggunaan medsos juga telah banyak diterbitkan oleh berbagai pihak.

“Seperti komunikasi tatap muka, penggunaan media sosial juga harus dilandasi dengan etika atau moral. Saya sering mengatakan, pria di balik socmed dan etika di belakang pria,” ujarnya.

Banyak yang melanjutkan, penggunaan medsos juga harus dimaksudkan sebagai media untuk menyebarkan kebaikan, pencerahan, persahabatan, memperluas jaringan pertemanan, dan memperkuat literasi di kalangan netizen. Ia mengingatkan, ada beberapa tanda dalam menggunakan medsos yang perlu diperhatikan oleh setiap netizen.

Pertama, hindari fitnah, gosip, menyebarkan kebencian. Kedua, menghindari bullying, ujaran kebencian, permusuhan berdasarkan suku, ras, atau antar golongan. Ketiga, menghindari penyebaran materi pornografi, maksiat, dan segala hal yang dilarang oleh agama dan budaya.

“Hindari menyebarkan hoax dan informasi palsu meski dengan niat baik. Hindari juga menyebarkan konten yang benar namun tidak sesuai dengan tempat atau waktu,” jelasnya.

-->


Sumber:
Republika Online

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan