Abdul Mu’ti: Menghina Pancasila Sama Saja Menghina Para Ulama

news.schmu.id, Pendidikan:  Pancasila Lahir dari Ijtihad Para Ulama, Abdul Mu’ti mengakui bahawa dia dikejutkan oleh kumpulan yang menganggap Pancasila sebagai produk Thoghut yang kafir dan bertentangan dengan ajaran Islam. Menurut Abdul Mu’ti, mereka yang menuduh seperti itu telah menghina ijtihad ulama.

Pancasila Lahir dari Ijtihad Para Ulama

Pancasila Lahir dari Ijtihad Para Ulama
Prof DR Abdul Mu’ti Sekjen PP Muhammadiyah

Pancasila sendiri dilahirkan sebagai kesepakatan dan ijtihad di kalangan para sarjana dan tokoh-tokoh pendiri bangsa. Ini berarti bahwa perumusan Pancasila memiliki landasan keagamaan sesuai dengan prinsip dan hukum Islam. Bagi Muhammadiyah, Pancasila dianggap formula terakhir yang tidak dapat diubah.

Peneguhan ini dibuat oleh Muhammadiyah dengan melancarkan dokumen resmi Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah (Negara Perjanjian dan Kesaksian) pada Kongres Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada tahun 2015.

“Sehingga Muhammadiyah menyebut Pancasila sebagai dasar negara Islam dan Negara Pancasila sebagai negara perjanjian,” kata Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah. Abdul Mu’ti menyampaikan dalam forum diskusi Empat Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia di Gedung Nusantara III , Senayan, Jakarta, Isnin (26/4).

Dalam perbincangan dengan tema “Menentang Penyusupan Ekstremisme di Kalangan Pemuda”, Abdul Mu’ti menekankan bahawa tugas umat Islam, terutama Muhammadiyah, adalah untuk menyaksikan dengan melakukan kerja bersama untuk membangun negara.

“Jadi itu Mabni, yang bermaksud tidak dapat berubah. Selain Darul Ahdi (Negara yang Dijanjikan), itu juga Darul Syahadah (Negeri Saksi), ”katanya.

Selaras dengan Mu’ti, Timbalan Speaker Dewan Perundingan Rakyat Ahmad Basarah juga prihatin terhadap pemahaman yang lemah mengenai kumpulan pelampau di Indonesia mengenai sejarah bangsa mereka sendiri.

“Para cendekiawan agama yang menurut saya mendalam, pengetahuan ilmiah mereka tentang Islam tentunya sangat mendalam. Bersedia menerima Pancasila sebagai dasar bagi sebuah negara Indonesia yang merdeka. Pancasila itu bukan nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, “kata Basarah.

Selain pemahaman sejarah mereka yang lemah, kumpulan ekstremis dan radikal ini juga mempunyai masalah untuk mempercayai takdir Allah yang menempatkan mereka untuk hidup di dunia yang pluralistik seperti Indonesia.

Baca juga: Pengamalan Pancasila Sila ke-5

“Juga harus diyakini bahawa itu adalah takdir Allah Subhanahu wa ta’ala, seperti di rukun iman saya percaya bahawa mempercayai takdir juga merupakan bagian dari iman. Sehingga barang siapa yang ingin mengubah takdir Tuhan untuk bangsa Indonesia sebenarnya bertentangan dengan takdir Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, “tegasnya.

editor: cak iphin | sumber: muhammadiyah.or.id

Terkini