Menu
Portal Berita Pendidikan Indonesia

Muhammadiyah: Tragedi Stadion Kanjuruhan Mengoyak Marwah Bangsa

  • Bagikan
Muhammadiyah: Tragedi Stadion Kanjuruhan Mengoyak Marwah Bangsa

Laga Arema FC vs Persebaya dalam lanjutan Liga 1 Indonesian di stadion Kanjuruhan Malang (1/10/2022) berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan tim tamu. Usai wasit meniup peluit panjang, suporter tuan rumah yang kecewa menyerbu lapangan. Pihak Kepolisian lantas menembakkan gas air mata di dalam stadion, sesuatu yang menyalahi aturan FIFA. Para penonton yang masih berada di dalam stadion pun panik dan berdesakan di pintu keluar, menyebabkan sesak nafas massal. Ratusan korban meninggal di stadion dan di rumah sakit.

Tragedi Kanjuruhan ini menjadi tragedi paling mematikan kedua di dunia olahraga setelah peristiwa 24 Mei 1964 yang menyebabkan lebih dari 300 orang tewas dan 500 lainnya terluka dalam kerusuhan di Stadium Nacional Lima, Peru. Kejadian setelah laga Argentina mengalahkan Peru dalam pertandingan kualifikasi Olimpiade itu ditetapkan sebagai the world’s worst stadium disaster hingga sejauh ini.

Menyikapi peristiwa Kanjuruhan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir sungguh prihatin dan menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya korban dalam tragedi yang terjadi pada pertandingan sepakbola di stadion Kanjuruhan Malang tanggal 1 Oktober 2022.

Publik menyesalkan cara dan tindakan dalam menangani kerusuhan tersebut, sehingga terjadi korban meninggal yang besar. Pertandingan derby Jawa Timur dengan tensi tinggi ini disaksikan langsung 42.000 pasang mata, dari yang seharusnya 38.000 kapasitas penonton di Kanjuruhan.

“Kami menyesalkan petistiwa tragis tersebut, lebih-lebih menyangkut nyawa manusia yang besar jumlahnya, padahal satu jiwa saja sangat berharga yang harus dijaga,” tutur Haedar pada Ahad (2/9/2022).

Haedar menyampaikan perlu adanya investigasi yang objektif dan tuntas dari berbagai aspek, karena kasusnya bukan hanya nasional tetapi sudah berskala global. “Tragedi ini mengoyak marwah bangsa dan negara Indonesia,” tukas Haedar Nashir. Seolah sepakbola menjadi lebih berharga dibanding nyawa manusia.

Kepolisian, PSSI, PT Liga Indonesian Baru, dan seluruh pemangku kebijakan perlu bersikap tegas dan bijak. (Ribas)

Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan