Menu
Portal Berita Pendidikan Indonesia

Mereduksi Cyberbullying di Kalangan Pelajar Muhammadiyah

  • Bagikan
Mereduksi Cyberbullying di Kalangan Pelajar Muhammadiyah

SLEMAN, News Schmu – Akhir-akhir ini istilah bullying merebak di jagad maya, tidak hanya merampas hak dikalangan selebiritis dan pejabat publik, namun sudah merambah di pelosok lapisan masyarakat, termasuk di kalangan pelajar. Fenomena cyberbullying ini semakin meningkat, terutama sejak pandemi covid-19 di mana semua orang intensi menggunakan teknologi semakin tinggi. Siswa melaksanakan proses persekolahan menggunakan teknologi internet juga menjadi pemicu naiknya fenomena cyberbullying (Hinduja, 2021).

Sementara itu, dampak cyberbulying juga sangat berfariasi mulai dari yang ringan sampai berat yang berujung pada ke kematian karena frustasi. Oleh karena itu, perlu upaya konkrit dalam usaha mereduksi perilaku cyberbullying ini secara massif, baik di keluarga, sekolah, dan juga masyarakat.

Dengan demikian, perilaku bullying sebagai tindakan yang tidak baik dan harus dicegah sejak dini, agar perbuatan bullying dapat diminimalisir, kalau bisa dicegah agar tidak melanda pada diri kita dan orang lain tentunya, karena bertentangan dengan ajaran Islam.

Dalam rangka upaya mereduksi perilaku cyberbullying, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bekerja sama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 1 Moyudan Sleman pada hari Jumat, 16 September 2022 mengadakan edukasi perilaku cyberbullying melalui pendekatan Islami.

Bertindak selaku tuan rumah SMK Muhammadiyah 1 Moyudan Ferdian Imam Muttaqin, S.Si. dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan kerja sama dengan UAD yang terus menerus berjalan, yang masuk pada Guru Tamu dalam program sekolah.

Selain itu ia menekankan akan pentingnya pengetahuan tentang bullying bagi siswa-siswi agar jangan meniru perlaku-perilaku yang dapat merusak moral dan karakter pelajar. Terlebih perilaku bullying akan menjadikan seseorang menjadi pemalas, rendah diri, tidak punya rasa pencaya diri, sehingga dapat memupus cita-citanya, pada hal cita-cita itu harus digantung setinggi langit, seperti yang diungkapkan Bapak Proklamator Ir. Bung Karno, “Gantungkanlah Cita-citamu setinggi langit”, mengakhiri kata sambutannya.

Sebagai pembicara, Pertama, Sutipyo Ru’iya, S.Ag., M.Si. sekaligus sebagai ketua Tim Pengabdian Masyarakat (PKM) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dengan tema: Pengenalan tentang macam-macam Bullying di kalangan Pelajar, ia mengatakan sangat prihatin dengan fenomena cyberbullying yang sudah merambah kemana-mana termasuk siswa-siswi di sekolah-sekolah Islam. Keprihatinan inilah yang mendorong Tim Pengabdian Kepada Masyarakat untuk melakukan kampanye anti cyberbullying di sekolah-sekolah.

Pembicara kedua, Dr. Sri Roviana, MA dengan tema: Ber-internet dengan aman (bebas bullying), ia mengatakan bahwa melalui edukasi ini, diharapkan siswa-siswi dapat beraktifitas di dunia maya dengan aman, sehingga mereka tidak menjadi korban cyberbullying dan juga tidak menjadi pelaku cyberbullying, sehingga para pelajar tidak tergoda dengan bujuk rayu, tipu daya yang dilakukan oleh pelaku bullying di berbagai media social lainnya.

Untuk itu, ia menekankan betapa pentingnya menjaga jari dalam menunul HP, kalau salah menunul tombol maka akan berakibat fatal, baik pada dirinya maupun orang lain, karena akan dibaca oleh jutaan orang dalam dunia maya, pungkasnya.

Pembicara ketiga, Dr. Yusron Masduki, S.Ag.,M.Pd.I dengan tema: Etika Berkomunikasi yang Islami, ia memaparkan dengan panjang lebah bahwa, pendekatan islami menjadi dasar teori dalam edukasi cyberbullying ini, karena perilaku manusia didasarkan oleh keyakinan yang dimilikinya, seseorang harus selalu ber-etika positif thinking.

Karena dengan positif thingking akan menambah imun seseorang, sehingga ia idak akan terpancing dan tergoda berbagai informasi yang menarik di dunia maya, karena sudah dibekali dengan positif thingking atau husnudhan (berprasangka baik) kepada orang lain. Dan yang tidak kalah penting, setiap siswa harus mewajibkan diri untuk senantiasa membaca al-Qir’an pagi dan sore agar hatinya tentram. Dengan hati yang tentram, maka nilai istiqamahnya akan semakin mantab. (YM/Riz)

Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan