Menu
Portal Berita Pendidikan Indonesia

Mahasiswa UBK Deklarasikan Anti Kekerasan Seksual dan Anti Narkoba

  • Bagikan
Mahasiswa UBK Deklarasikan Anti Kekerasan Seksual dan Anti Narkoba

Kekerasan seksual juga terjadi di lingkungan pendidikan

News Schmu, BANDUNG–Sekitar 1.500 mahasiswa baru Universitas Bhakti Kencana (UBK) menyatakan anti kekerasan seksual, anti narkoba. Mereka juga menyatakan bahwa mereka menolak korupsi. Deklarasi dilaksanakan di Kampus UBK, Kota Bandung pada Selasa (27/9/2022).

Deklarasi dipimpin langsung oleh Rektor UBK, Dr.apt Entris Sutrisno MHKes dan disaksikan oleh Ketua Tim Mobilisasi PKK Barat, Atalia Praratya Ridwan Kamil. Pencanangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bhakti Kencana (Kencana) 2022.

Menurut Atalia Praratya, kekerasan seksual yang terjadi tidak terjadi di masyarakat. Tapi juga di lembaga pendidikan. Termasuk yang banyak terjadi belakangan ini di pesantren. “Kekerasan seksual juga terjadi di kampus. Kasus-kasus yang muncul ke permukaan karena mereka yang berani melapor,” kata Atalia.

Atalia menuturkan, kasus kekerasan di kampus tidak hanya dilakukan oleh teman, pacar, atau bisa juga dilakukan oleh orang yang dianggap superior seperti dosen atau rektor dan sebagainya.

“Maka kita perlu perlindungan ini karena banyak sekali kasus yang muncul, terutama remaja. Saya tidak mengatakan ini hanya perempuan karena ternyata laki-laki juga bisa menjadi korban pelecehan,” katanya.

Atalia menilai UBK yang telah membuat deklarasi antiseksual, antara lain antikorupsi, dan antinarkoba. “Ya, deklarasi itu bagian dari upaya agar tidak ada lagi kekerasan seksual di mana pun, termasuk di kampus. Alhamdulillah Rektor UBK mendukung program anti kekerasan seksual ini. Bahkan mahasiswa tidak bisa dibimbing di rumah. Kami hargai itu,” kata Atalia.

Sedangkan menurut Rektor UBK, Dr apt Entris Sutrisno MHKes, deklarasi ini merupakan komitmen seluruh civitas akademika UBK untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual di kampus.

“Kami mendukung penuh upaya anti kekerasan seksual di kampus ini. Oleh karena itu, hari ini kami membuat deklarasi. Bahkan, kami memiliki badan khusus terkait kekerasan seksual ini. Kami memiliki hotline di web,” kata Entris.

“Jadi mungkin kalau ada mahasiswa yang benar-benar merasa terancam atau terganggu bisa ke hotline kami. Dan yang masuk dirahasiakan,” imbuhnya.

Dijelaskan Entris, pencegahan kekerasan seksual tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga akademisi.

“Makanya di kampus kami, mahasiswa tidak bisa datang ke rumah dosen apalagi meminta bimbingan atau diundang tanpa seizin kampus,” kata Entris.

Menurutnya, semua kegiatan kampus harus dilakukan di kampus. Kecuali jika dosisnya menyakitkan, Anda dapat memandunya secara online melalui LMS.

“Jadi kita bisa pantau kegiatannya. Dalam rekrutmen dosen kita juga sangat ketat. Ada semacam psikotes. Jadi kalau ada dosen laki-laki yang lemah, kita tidak terima,” kata Entris.

-->


Sumber:
Republika Online

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan