oleh

Kumpulan Contoh Khutbah Idul Adha Singkat

-Headline, Ibadah-129 views

News.schmu.id, Islami: Kumpulan Contoh Khutbah Idul Adha Singkat. Mendengarkan khutbah setelah melaksanakan shalat Idul Fitri adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Meski masih berlangsung di tengah pandemi, khutbah Idul Adha tahun ini tetap bisa dilakukan di rumah bersama keluarga atau di tanah lapang dengan terbatas.

Khutbah Idul Adha bukanlah suatu kewajiban, tetapi bisa menjadi sarana untuk berbagi ilmu kepada sesama umat Islam. Sebab, khutbah Idul Adha bukan hanya ladang pahala, melainkan kesempatan bagi umat Islam untuk bercermin.

Tak sedikit orang yang memanfaatkan momen ini untuk merenung, merenungkan berbagai hal yang telah terjadi dalam hidup agar bisa menjadi hamba-Nya yang lebih baik. Oleh karena itu, penting bagi khatib untuk memilih materi khutbah yang memiliki nilai moral yang dapat menggoyahkan hati dan jiwa jemaah pendengarnya.

Sebagai referensi, berikut kami sajikan beberapa Contoh Khutbah Idul Adha yang kami kutip dari portal suaramuhammadiyah.id.

Contoh Khutbah Idul Adha

Contoh Khutbah Idul Adha
Nurcholis Huda Khutbah Idul Adha foto via pwmu.co, Contoh Khutbah Idul Adha 

Khutbah Idul Adha untuk Khutbah di Rumah atau di Tempat Terbuka Kecil di Sekitar Rumah

اَلْـحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ . وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ  نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَعَلَى اَلِهَ وَ اَصْحَبِهَ وَمَنْ وَّالَاهُ اَمَّا بّعْدُ فَيَاعِبَدَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَأِيَّايَ بِتَقْوَى االلهِ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ

 اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Alhamdulillah, segala puji kepada Allah yang telah memberikan kesempatan, umur dan iman sehingga kita masih bisa berjumpa dengan hari raya umat Islam, yaitu hari raya Iduladha pada tahun 1441 H ini. Meskipun di tengah cobaan pandemi Covid-19 yang belum ada tanda-tanda selesai ini, sudah selayaknya kita tetap mengucapkan syukur alhamdulillah atas nikmat Allah berupa kesehatan dan kesempatan untuk memohon ampun atas dosa-dosa yang kita miliki.

Karena bagaimana pun, ada golongan yang sekarang sudah meninggal dan berharap agar mereka dihidupkan kembali untuk memperbaiki amalannya dan ada pula yang berharap dengan mengatakan “yaa laitani kuntu turaaba”, mereka berharap agar dulu diciptakan sebagai debu saja, supaya tidak perlu mempertanggungjawabkan amalan-amalan mereka di dunia.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.

Iduladha merupakan hari raya kurban dimana kita diminta untuk mengurbankan sebagian harta kita untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah. Masyhur diketahui bahwa salah satu dalil dari perintah ibadah kurban ini adalah peristiwa dimana Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. untuk menyembelih anaknya, Ismail a.s.. Menyembelih anak yang lama ditinggal bersama ibunya di padang tandus Arab ketika itu.

Kalau bukan karena perintah Allah, maka tidak mungkin Ibrahim a.s. tega meninggalkan anak dan istrinya di tempat seperti itu. Pengorbanan Ibrahim tersebut, beliau lakukan untuk menunjukkan dirinya adalah hamba yang taat kepada Rabbnya. Tidak cukup sampai di situ, anak yang dinanti-nanti sebagai penerus pembawa risalah kenabian, kemudian harus ia sembelih dengan tangannya sendiri. Tentu berat sekali hal tersebut bagi Nabi Ibrahim a.s., dan secara logika, lebih berat lagi bagi Nabi Ismail a.s.

Keluargaku yang dirahmati Allah.

Pernahkah kita membayangkan menjadi posisi Ismail a.s., bapak yang meninggalkan diri kita bersama ibu di padang pasir, lalu jarang pulang, dan tiba-tiba datang bercerita bahwa dirinya hendak menyembelih kita dikarenakan mendapat mimpi? Apakah kalau kita menjadi Ismail ketika itu, kita akan termasuk orang yang rela mengorbankan diri kita sebagaimana Nabi Ismail? Belum lagi, jika kita membaca jawaban Ismail a.s. yang diabadikan dalam al-Quran surah ash-Shaaffaat ayat 102,

قَالَ ياَ آبَتِ افْعَلْ ماَ تُؤْمَرُ سَتَجِدُونِي إِنْشاَء اللهُ مِنَ الصَّبِرِينَ

Ia (Ismail) menjawab, wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Dalam ayat tersebut, Ismail bahkan memanggil ayahnya dengan kalimat “yaa abati” bukan hanya sekedar “ya abii”. Kata “ya abati” memiliki makna lain daripada sekedar “ya abi”. Kalimat “ya abati” dalam Bahasa Arab menunjukkan makna ayah yang sering pergi, akan tetapi sang anak selalu merindukannya.

Panggilan ini menunjukkan kuatnya perasaan seorang anak kepada ayahnya dimana jauh dan dekat tetap dirindukan. Dalam posisi akan disembelih, bahkan Ismail tetap menunjukkan ketegaran, rasa hormat dan sayangnya kepada ayahnya. Itulah pengorbanan Ismail dan keluarga Ibrahim.

Keluargaku yang diberkati Allah.

Tak hanya Nabi Ibrahim, nabi-nabi lain-pun juga diuji dengan hal yang berat. Sebagaimana hadis yang menyatakan,

ياَرَسُولُ اللهِ أَيُّهَا النَّاس أَشَدّـُ بَلَاء: الأَنبِيَاء ثُمَّ الأَمثَالُ فَالأَمثَلُ

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, para nabi kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi (maksudnya, yaitu orang-orang di bawah para nabi berdasarkan tingkat kesalehannya).

Dari hadis ini dapat dilihat, bahwa semakin saleh seseorang, maka Allah akan semakin mengujinya untuk membuktikan derajat kesalehannya. Sebagai contoh Nabi Adam diuji dengan anaknya yang membunuh saudara kandungnya. Nabi Nuh juga diuji dengan kekafiran anaknya. Nabi Luth, diuji dengan istrinya.

Nabi Muhammad diuji dengan pamannya yang hendak membunuhnya. Serta ujian-ujian lainya yang dialami para nabi. Dari kalangan orang saleh, Asiyah, diuji dengan memiliki suami bernama Firaun. Siti Maryam, diuji dengan memiliki anak tanpa suami. Sayidah Aisyah yang merupakan istri baginda nabi Muhammad pun diuji dengan tidak memiliki keturunan.

Keluargaku yang diridai Allah

Pertanyaanya kemudian, sudah sejauh manakah pengorbanan kita dan kesabaran kita ketika Allah menguji kita? Apakah kita termasuk orang yang bersabar, ataukah kita justru termasuk golongan yang suka mengeluh dan bahkan justru menggugat Allah?

Semisal dengan pertanyaan “Ya Allah, apa salah saya hingga engkau menguji saya seperti ini?” Pertanyaan yang justru mengherankan, karena menunjukkan bahwa kita tidak bisa menyadari betapa banyaknya dosa yang telah kita perbuat. Na’udzu billahi min dzalik.

Pada akhirnya, kita yang mengaku beriman akan diuji sebagaimana mereka yang mengaku pintar, akan diuji kepintarannya. Virus Corona dan segala hal yang bersangkutan dengannya juga termasuk ujian dari Allah. Salah satunya adalah ujian keimanan berupa iman terhadap takdir yang Allah berikan kepada kita baik takdir yang baik, mapun takdir yang buruk.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd

Akhirnya, marilah kita berdoa untuk kebaikan di dunia dan di akhirat kelak bagi seluruh umat Islam baik yang masih hidup di mana pun berada maupun yang sudah meninggal dunia.

لّلَهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسِلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبُ مُخِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَظِيَ الْحَخَاتِ

 رَبَّنآ لاَتُزِغْ قُلُوْبَنآ بَعْدَ إِذْ هَذَيْتَنآ وَهَبْ لَنَآ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ الْوَهَآبُ. رَبَّنآ هَبْ لَنَآ مِنْ أَزْوَاجِنَآ وَذُرِّيَتِنَآ قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَآ لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمُ عَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أكْبَر

 واَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُه

Alda Kartika Yudha, Alumni Universitas Al-Azhar, Cairo

  1. Khutbah Idul Adha 10 Dzulhijjah 1441 H: #WabahBelumBerakhir
  2. Pengorbanan adalah Keteladan Para Nabi
  3. Idul Adha dan Refleksi Ujian Keimanan untuk Setiap Hamba
  4. Tiga Pelajaran dari Ibadah Hari Raya Iduladha dan Ibadah Nahr
    (Penyembelihan Kurban)
  5. Semangat Kurban Semangat Melawan Covid-19

Baca juga: 5 Khutbah Idul Adha: Keteladan dan Pengorbanan Para Nabi

Contoh Khutbah Idul Adha Singkat

Contoh Khutbah Idul Adha Singkat
Contoh Khutbah Idul Adha Singkat

 

السلا م عليكم ورحمة الله وبركاته

ان الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور انفسنا و من سيئات اعمالنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلله فلا هادي له

اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له و اشهد ان محمدا عبده و رسوله

الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

ياايها الناس اوصيكم و اياي بتقوى الله فقد فاز المتقون – قال تعالى- ياايها الذين ءامنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا و انتم مسلمون – ياايها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة و خلق منها زوجها و بث منهما رجالا كثيرا و نساء واتقوا الله الذي تساءلون به والارحام ان الله كان عليكم رقيبا – ياايها الذين ءامنوا اتقوا الله و قولوا قولا سديدا – يصلح لكم اعمالكم و يغفرلكم ذنوبكم ومن يطع الله و رسوله فقد فاز فوزا عظيما

 

Jamaah shalat ied rahimakumullah

Marilah kita bersama sama senantiasa menyadari, bahwa Allah telah banyak melimpahkan rahmat-Nya kepada kita, banyak teramat banyak, sehingga kita takkan mampu menghitungnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang ( QS An-Nahl : 18 )

Dari firman Tuhan di atas jelas bahwa Tuhan telah memberikan nikmat-Nya kepada kita begitu banyak, sehingga mustahil bagi kita untuk dapat menghitungnya. Karena sesungguhnya apa yang kita nikmati, kita rasakan dan dapatkan dalam hidup ini adalah semua anugerah Tuhan. Meski begitu, ternyata kebanyakan orang termasuk orang yang tidak mau bersyukur.Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah ;

إِنَّ اللهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُونَ

Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur ( QS Al-Baqarah : 243 ).

Padahal bagi yang bersyukur, Allah berjanji akan melipat gandakan kenikmatan yang disyukurinya Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Ibrahim ayat 7 ;

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu kamu menginkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku amat pedih (QS Ibrahim : 7)

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah yang telah dianugrahkan kepada kita. Terlebih dalam kesempatan hari ini, kita umat islam merayakan idul adha.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi junjungan kita Muhammad saw. Yang telah memberikan suri tauladan utama untuk selalu kita tiru agar kita bisa menjadi manusia yang selamat dunia akhirat.

الله أكبر الله أكبر لااله الا الله والله أكبر الله اكبرولله الحمد

Hadirin yang berbahagia.

Saat ini jemaah haji dari seluruh dunia sedang menyelesaikan manasik haji di tanah suci. Setelah selesai wukuf di Arafah, mereka menuju ke Mina untuk mabid dan melempar jumrah. Semoga haji mereka sukses dan kembali ke distrik dan keluarga masing-masing dengan selamat. kepulangannya ke tanah air membawa bangsa ini semakin religius.

Bagi yang tidak menunaikan haji, maka ibadah utama pada hari Idul Adha adalah menyembelih hewan kurban. Rasulullah menekankan kepada umatnya yang mampu menyembelih hewan kurban dengan sabdanya:

من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلا نا

Barang siapa mempunyai kemampuan berkurban, tetapi tidak melakukannya, maka janganlah mendekat tempat shalatku” (HR Ahmad ibn Majah dari Abi Huarairah)

Syariah Qurban tidak bisa dilepasakan dari peristiwa pada zaman nabi Ibrahim dan Ismail. Perintah Qurban yang diterima nabi Ibrahim ‘alaihisalam diterangkan di dalam surat Ash-shooffaat ayat 102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Nabi Ibrahim Ibrahim AS adalah seorang nabi yang mendapat nama abul ambiya (bapak para nabi). Di Idul Adha kali ini kita mencontoh pengalaman dan pengalaman keluarga Ibrahim yang penuh dengan cobaan, pengorbanan, ketekunan dan keikhlasan. Ibrahim sangat merindukan kehadiran anak sebagai keturunannya. Dan setelah anak itu diberikan oleh Allah, Ibrahim diuji, apakah cintanya kepada Allah akan dikalahkan oleh cintanya pada anak yang selama ini dia nantikan?. Ternyata tidak. Ibrahim lulus ujian Allooh yang berat.

Dalam ayat sebelumnya dijelaskan bagaimana Ibrahim berkomunikasi dengan sangat baik dengan putranya (Ismail). Menunjukkan bagaimana Ibrahim memiliki keluarga dengan hubungan yang terjalin dengan baik, antara orang tua dan anak tidak ada hambatan komunikasi sebagai proses pendidikan anak-anaknya. Dan yang menakjubkan adalah jawaban Ismail yang menunjukkan gambaran seorang anak yang selalu dididik imannya kepada Allah dengan baik.

Semoga kita bisa mencontoh keluarga Ibrahim. Sebagai orang tua jadilah orang tua yang baik. Yang selalu mendidik keimanan kepada anak-anak kita, agar menjadi anak-anak yang memiliki keimanan Islam yang kuat. Kami tidak akan membiarkan anak-anak kami dicemari oleh ajaran yang menjauhkan kami dari hidayah Allah. Kita akan mendidik anak-anak kita menjadi anak yang sholeh, anak cerdas yang berakhlak mulia dan menjadi generasi penerus bangsa yang mampu membawa kemajuan bagi ummat dan bangsa tercinta.

الله أكبر الله أكبر لااله الا الله والله أكبر الله اكبرولله الحمد

Jamaah shalat ied

Jamaah shalat ied yang berbahagia

Kita prihatin, sebagian dari saudara kita masih berada dalam kemiskinan. Kesejahteraan yang menjadi salah satu cita cita berdirinya bangsa ini belum bisa mereka dapatkan. Yang lebih memprihantinkan adalah runtuhnya moral sebagian warga bangsa ini. Ditengah penderitaan rakyat miskin, trilyunan uang Negara dikorupsi oleh para pejabat yang seharusnya membangun kesejahteraan negri ini. Korupsi telah terjadi di semua lini. Bahkan korupsi dilakukan bersamaan, atau orang sering menyebut korupsi berjamaah. Disamping itu, semakin meningkatnya kasus kriminalitas, pornografi, norkoba dan bentuk kemaksiatan lain. Bahkan penyalahgunaan Narkoba telah sampai pada konsisi darurat, dan benar benar mengancam masa depan bangsa.

Untuk menyelesaikan problem bangsa yang pelik ini tentunya bukan pekerjaan yang mudah. Sudah barang tentu kita membutuhkan anak bangsa yang rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kemajuan bangsa. Kita butuh generasi yang unggul dan hebat, generasi yang mencintai Allah dan tunduk terhadap aturan-Nya, karena hanya dengan kembali kepada aturan hidup Allah, segala problem yang kita hadapai tersebaut dapat terurai dengan baik. Dan contoh itu bisa kita temui pada pribadi nabi Ibrahim dan ismail putranya. Inilah saatnya kita meneladani dengan benar pribadi mulia itu. Salah satunya dengan mengahayati syariat berkurban.

الله أكبر الله أكبر لااله الا الله والله أكبر الله اكبرولله الحمد

Jamaah shalat ied yang berbahagia

Dua dimensi Ibadah Qurban

Ibadah Qurban yang kita lakukan memiliki dua dimensi;

pertama adalah ibadah yang bersifat vertikal, semata-mata berbakti kepada Allah dan hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT. Bahwa hanya iklhas karena Allah qurban itu dilakukan. Qurban juga sebagai perwujudan tauhid, mencintai Allah diatas cinta kepada yang lain, melebihi cintanya kepada keluarga dan harta benda yang ia miliki. Melebihi cintanya kepada jabatan dan seluruh fasilitas yang didapatkan selama ini. Dan keiklhasan berqurban karena kecintaan kepada Allah itulah yang mentukan qurban kita diterima atau tidak, Sebagaimana dijelaskan dalam dalam firman-Nya Q.S al-Hajj: 37

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Kedua adalah ibadah yang bersifat horizontal, yakni menyantuni para dhua’afa melalui pembagian daging qurban tanpa membeda-bedakan agama, suku dan golongan. Qurban merupakan ujud nyata dari upaya orang yang mampu untuk membantu kesejahteraan sesama. Bahwa seseorang tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri.

Tetapi dalam hidup ini ada peran kehidupan yang kita lakukan untuk orang dan untuk menolong orang. Semangat rela berqurban seperti inilah yang seharunya selalu ada disetiap ank negri ini, terlebih pada diri para pemimpin bangsa. Apabila para pemimpin telah memiliki jiwa rela berkuraban untung kepentingan rakyat yang dipimpinya, niscaya ia tidak akan berlaku korup, menggasak uang negara untuk kepentingan dirinya.

Ketika Orang yang mampu dan memiliki harta berlebih telah memiliki semangat berkurban, semangat menolong penderitaan saudanya, maka kesejahteraan sesama menjadi bagian yang tidak terpisahkan darai hidupnya. Ia sadar bahwa menolong sesama adalah wujud ibadah yang sangat tinggi nilainya dimata Allah. Menolong sesama sebagai perwujudan amal sholeh dari iman yang telah tertanam dengan kokoh. Allah berfirman dalam ayat yang panjang Q.S. al-Baqarah: 177 mengambarkan sikap taqwa seorang hamba.

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Oleh karena itu marilah semangat berkurban ini senantiasa menjadi sikap hidup kita. Bahwa menjaga iman dengan menagakkan tauhid harus juga diikuti dengan kepedulian kita terhadap penderitaan sesama.

الله أكبر الله أكبر لااله الا الله والله أكبر الله اكبرولله الحمد

jamaah sholat ied yang berbahagia

Upaya kita meneladani Nabi Ibrahim juga bisa kita lakukan dengan mengkaji salah satu doa beliau yang tertera didalam surat Asy-syu’ara ayat 83 – 85 ;

رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ. وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ. وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ.

‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh keni’matan’

Dalam ayat diatas Nabi Ibrihim memohon agar diberi Hikmah. diberikan kebijaksanaan. Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud adalah diberi Ilmu pengetahuan. Tentunya agar dengan ilmu pengetahuan itu kita bisa bertindak bijaksana. menjadi orang “pinter” dan sekaligus “pener”. orang yang seperti inilah yang sangat dinantikan dalam membawa ummat dan bangsa yang berkemajuan.

Nabi Ibrahim juga memohon agar dijadikan buah tutur yang baik bagi generasi sesudahnya. Menjadi buah tutur kebajikan tentunya bisa terwujud manakala dalam kehidupan ini kita meninggalkan rekam jejak yang baik. meninggal amal sholeh yang bermanfaat untuk orang banyak. maka dialah yang akan dikenang.

Seperti kata pepatah manusia mati meninggalkan nama. Bangsa ini memiliki orang orang besar yang karya dan pengorbanannya telah dirasakan manfaatnya oleh ummat dan bangsa ini. oleh karena itu marilah kita senantiasa berjuang agar dalam hidup kita selalu melakukan keabaikan, memberikan manfaat kepada lingkungan kita, lepada siapapun yang begaul dengan kita.

Hidup kita kita hanya sekali, harus menjadi hidup yang berarti. Bukan hanya bagi kita sendiri, tapi juga untuk orang lain, untuk ummat dan Bangsa disinilah pengorbanan itu selalu dibutuhkan.

Akhirnya marilah kita memohon kepada Alllah semoga kira senantiasa diberi hidayah, sehingga didalam menghadapi hidup yang semakin sulit ini kita tetap menjalani dengan benar.

اللهم صل على محمد و على أله وأصحابه أجمعين ياأرحم الرحمين.

اللهم اغفرللمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات, اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارناالباطل باطلا وارزقنااجتنابه,

ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا ربنا ولا تحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا, ربنا ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين,

ربنا أتنا فى الدنيا حسنة و فى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار, ربناعليك توكلنا واليك أنبنا واليك المصير, والحمد لله رب العالمين.

Diatas adalah Contoh Khutbah Idul Adha Singkat yang bisa juga anda donwload di kumpulan khutbah Idul Adha.

Komentar

News Feed