Menu
Portal Berita Pendidikan Indonesia

Kemajuan Dunia Metaverse, Haedar Nashir: Perlu Berlandaskan Nilai Kemanusiaan

  • Bagikan
Kemajuan Dunia Metaverse, Haedar Nashir: Perlu Berlandaskan Nilai Kemanusiaan

YOGYAKARTA, News Schmu – Hari bersejarah bagi keluarga besar Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu). Tepatnya Rabu (5/10) telah dilakukan prosesi launching oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr KH Haedar Nashir, MSi berupa Kampus Virtual bertempat di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Prof Haedar kehadiran kampus virtual SiberMu menjadi hari yang bersejarah menjelang perhelatan akbar lima tahunan (Muktamar) di Surakarta, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan kesinambungan dari diresmikannya SiberMu setelah memperoleh izin operasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 026/E.EI/KB.01.00/2021. Ketika melakukan uji coba menggunakan peranti yang disediakan, Prof Haedar memberikan kesaksian jika kampus virtual SiberMu tampak menjulang gagah dan lengkap.

“Dengan mengucap Bismillah hirrahman ni rahim, di hari yang bersejarah dan penting ini, saya atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah meresmikan kampus virtual SiberMu. Semoga Allah Swt merahmati, meridai, dan memberikan berkah,” katanya.

Menurutnya, SiberMu merupakan manifestasi dari kampus milik bersama yang bergenre baru ketika banyak pihak bicara era revolusi industri 4.0 dan revolusi teknologi super canggih. Bersamaan dengan itu, dalam beberapa tahun ini dunia telah dikenalkan dengan metaverse sebagai sebuah instrumen baru yang manusia akan mengenal dunia virtual tampak lebih nyata.

“Tentu untuk hal-hal positif, bahwa dunia baru ini juga akan diisi oleh kepentingan-kepentingan jahat yang bisa merusak relasi peradaban manusia. Semuanya tergantung pada kita sebagai khalifah di muka bumi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Guru Besar Ilmu Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu memberikan dua substansi dari kehidupan dalam bingkai Islam. Ketika menafsirkan redaksi ayat wa mal hayatuddunya ila mata’ul ghurur (QS ali-‘Imran [3]: 185) pada titik pangkalnya kata al-ghurur kerap disalah tafsirkan sebagai corak pandangan negatif hal ihwal yang perlu diwaspadai dalam menjalani hidup seperti hidup materialistik, hedonis, kebohongan, dan lain sebagainya.

Tetapi, bersamaan dengan itu jika ditarik pada arah tafsir baru, seperti dunia metaverse, tentu memiliki bentuk al-ghurur, namun dalam konstruksi yang positif.

“Menghadirkan dunia yang kelihatannya maya dan penuh permainan, tetapi hal itu kita konstruksi menjadi sesuatu yang nyata dan penuh makna. Jadi, ini mengubah pandangan kehidupan kita tentang kehidupan,” ujarnya.

Kemajuan Dunia Metaverse, Haedar Nashir: Perlu Berlandaskan Nilai Kemanusiaan
Haedar Nashir (tengah) saat mencoba Virtual Reality SiberMu

Dalam tarikan napas al-Asr, secara eksplisit telah menemukan titik realitas baru dalam kehidupan masa kini. Tidak hanya hitam putih, benar salah, baik buruk, pantas tidak pantas, tetapi ada banyak dimensi kehidupan atau al-Qur’an menyebutnya dengan istilah al-irsyadah (petunjuk) dalam kehidupan.

Sehingga, menghadapi realitas baru ini, Prof Haedar menekankan pula pada tim yang berkecimpung di dunia Tarjih dan Tablig untuk senantiasa memperkaya pada proses penggunaan akal pikiran dan ilmu dalam multidimensi, multiaspek, dan multiperspektif yang bisa dikonstruksi secara positif.

Prof Haedar menyinggung teori simulacra dari pandangan Jean Baudrillard yang menjangkarkan pada dunia imitasi yang terus diproduksi pada tahap lanjut kemudian menjelma pada kenyataan. “Membangun realitas buatan yang diproduksi dari realitas asli, tetapi orang merasa berada di situ, tetapi sesungguhnya bukan itu,” katanya.

Semua itu akan makin bermakna jika memiliki value (nilai). Kemajuan sebuah peradaban dilandaskan pada basis value. Yakni nilai-nilai luhur dan penting yang menjadi jiwa dan orientasi tindakan dalam kehidupan.

Sebagai penutup, Prof Haedar berharap agar kehadiran dunia metaverse ini harus bisa dijadikan kesempatan untuk kepentingan dakwah yang mencerahkan, dakwah yang mencerdaskan, dan dakwah yang menyelamatkan kehidupan (alam semesta). Inilah makna dari Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.

Dalam pelaksanaan prosesi launching tersebut, selain dihadiri oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, juga dihadiri oleh Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah, Prof Dr H Chairil Anwar, Rektor SiberMu, Dr Ir Bambang Riyanta, ST.MT, Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Dr Muchlas, MT, Rektor Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, SKp, MKep., SpMat yang menghadiri secara langsung. Kemudian, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Drs H Gita Danu Pranata, SE., MM, Prof H Suyanto, PhD, Prof Dr H Edy Suandi Hamid, MEc, dan Muhammad Sayuti, MPd, MEd., PhD yang menghadiri secara virtual (daring). (Cris)

Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan