Menu
Portal Berita Pendidikan Indonesia

Hukum Pengobatan dengan Ruqyah, Bolehkah?

  • Bagikan
Hukum Pengobatan dengan Ruqyah, Bolehkah?

Apa hukum pengobatan dengan Ruqyah dalam Islam?, kekuatan penyembuh adalah Tuhan. Manusia harus berusaha untuk menjaga kesehatannya dengan minum obat, namun penentuan cepat sembuh atau tidaknya itu semua ada dalam kuasa Allah (Sura Ash-Syu’ara: 80).

Selain pengobatan, ada juga pengobatan alternatif di tengah masyarakat yang dikenal dengan ruqyah. Lantas, bagaimana hukum ruqyah dalam Islam?

Hukum pengobatan dengan Ruqyah

Ada beberapa hadits tentang ruqyah yang dilakukan oleh Nabi. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah misalnya, Nabi mengamalkan ruqyah setiap kali hendak tidur.

Hadits tersebut berbunyi: Dari Aisyah ra, bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur, beliau meniup tangannya, membaca surah mu’awwidzaat (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Anl Naas) dan menggosok-gosoknya. tangan di atas tubuhnya.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam hadits lain, Nabi melakukan ruqyah untuk keluarganya yang sedang sakit. Hadits tersebut berbunyi:Dari Aisyah ra bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk keluarganya yang sakit.

Dia menyeka dengan tangan kanannya dan mengucapkan doa – yang berarti: “Ya Tuhan, Tuhan seluruh umat manusia, hilangkan kesulitan ini – yaitu penyakit -. Sembuhkan, hanya Anda yang bisa menyembuhkan. Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak lagi meninggalkan penyakit.(Muttafaq ‘alaih).

Selain kepada keluarganya, Rasulullah juga pernah mengamalkan ruqyah kepada sahabatnya Abu Hurairah. Hadits ini berbunyi:Dari Abu Hurairah dia berkata, “Nabi datang menemuiku, dan dia berkata kepadaku: “Apakah kamu ingin aku melakukan ruqyah dengan ruqyah yang diajarkan Jibril kepadaku?” Aku lalu menjawab, “Demi ayah dan ibuku tentu saja ya Rasulullah.” Dia kemudian membacakan doa—yang artinya—: ‘Dengan nama Tuhan aku mengurapimu, dan Tuhanlah yang menyembuhkanmu dari setiap penyakit yang menimpamu, dari setiap kejahatan penyihir yang meniup gelembung, dan dari kejahatan. dari iri ketika dia iri. . . ‘ Dia mengatakannya hingga tiga kali.” (HR.Ibnu Majah).

Bahkan malaikat Jibril pernah berdoa kepada Nabi ketika dia sakit. Hadits ini berbunyi: Jibril mendatangi Nabi lalu bertanya: “Wahai Muhammad, apakah kamu sakit?” Nabi SAW menjawab: “Ya.” Kemudian Jibril membacakan doa (seperti doa yang dibacakan kepada Abu Hurairah di atas).” (HR.Muslim).

Meski Nabi SAW pernah melakukan ruqyah, beliau juga memberi isyarat agar amalan pengobatan ini tidak bertentangan dengan akidah. Dalam hadits disebutkan:Dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i dia berkata: pada masa Jahiliyyah kami biasa menggunakan ruqyah, maka kami bertanya: Wa

hai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang itu? Kemudian Nabi SAW menjawab: tunjukkan padaku ruqyahmu, boleh saja menggunakan ruqyah selama tidak ada unsur syirik di dalamnya.” (HR.Muslim).

Berdasarkan hadits-hadits di atas, Rasulullah SAW pernah melakukan praktik ruqyah dengan pasiennya. Selain itu, hadits di atas juga melarang praktik ruqyah yang mengandung unsur syirik, misalnya meminta bantuan jin atau setan. Dalam kitab Tarjih Penghakiman volume 3 disimpulkan bahwa ruqyah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan membaca doa-doa ma’tsur atau ayat-ayat Al-Qur’an diperbolehkan.

baca juga: Hukum Mendatangi Dukun Serta Bahaya yang Ditimbulkan

Sumber: muhammadiyah.or.id dengan judul Hukum Pengobatan Alternatif dengan Ruqyah, Bolehkah?

Silahkan berlangganan konten kami di Google News

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan